Who Am I....?
Who Am I...?
Tinggi 180cm membuat keberadaan terlalu mencolok, apalagi kulit
ini yang selalu tampil beda dengan orang-orang pada umumnya. Padahal hal paling
dibenci keramaian dan membuat perhatian orang-orang.
Berasal dari Muara Enim serta Lahir dalam keluarga yang sederhana
bukan restoran dari seorang ayah berdarah jawa dan ibu orang sumatera, dengan
golongan darah O sukses membuat diri ini menjadi makhluk berbeda dari orang
lain.
Lebih sering di panggil kakak oleh orang yang lebih tua, mungkin
karena nasib mempunyai wajah yang lebih tua dari umur sendiri. Belajar menjadi
hal rutin, maksudnya belajar main game. Yang justru seperti kutukan atau
penyakit kalo sudah ngeliat buku.
Suka nonton anime jepang tapi hampir gak pernah nonton TV acara
Indonesia. Bukan karena sok-sokan mau di bilang level tinggi nontonin acara
luar, tapi karena uang bulanan kurang menunjang untuk bayar listrik nonton tv.
Satu-satunya hobi tidur, karena selain menyehatkan. Tidur bisa
menjadi alternatif lain untuk menghemat uang makan bulanan. Bukan karena pelit
tapi ini prinsip.
Hidup di dalam lingkungan sederhana dengan tingkat ketenangan di
atas rata-rata menjadikan diri ini orang yang sangat pendiam di dunia nyata dan
menjadi sebaliknya jika di dunia maya.
Daerah favorite
pojokan, dengan sudut ini setiap gerak-gerik seisi ruangan bisa dilihat. Bisa
dibilang kepo tapi ini bagian utamanya, sudut yang hanya menjadi bayangan
ruangan justru menjadi tempat strategis untuk mengawasi orang-orang.
Ketenangan yang dalam tanda kutip tanpa keramaian hal paling
istimewa dan paling sulit didapatkan, mungkin karna manusia makhluk sosial
sehingga dengan mudah mengatakan kebisingan adalah bagian komunikasi. Yang
jelas satu-satunya kebisingan yang paling merdu adalah suara yang keluar dari
earphone.
Hobi adalah kata yang mustahil dimiliki, mungkin karna menyukai
banyak hal tapi tak sedikitpun ada fokus terhadap satu hal, membuat tak punya
hobi adalah sesuatu yang mungkin terjadi.
Paling sering sakit yang lebih tepatnya demam panggung, mungkin
karena jarang berkomunikasi apalagi dengan orang baru ditambah lagi sudah terlalu nyaman dengan
kondisi yang ada. Yang jelas ini bukan suatu yang memperhatinkan tapi justru
ini bagian utamanya.
Masuk Psikologi berharap
menyembuhkan penyakit demam panggung dan anak cucunya yang menyusahkan ini, dan
menjadi pelicin nama untuk ngadep calon mertua kelak. Di tambah lagi peluang
kerja yang banyak. Dengan kata lain mendefinisikan saya lebih matrerialistis.
Karena saya membenci hal yang ribet di tambah lagi kreatifitas dari
otak ini sangat sedikit sekali untuk mendeskripsikan diri sendiri apalagi
tulisan ini lebih cocok di bilang curcol dari pada essay, akhir kata Pamungkas
Comments
Post a Comment