Injit-injit Semut Mengajarkan Empati.

"Hompimpa Alaihom Gambreng.....Lari!!!!!!!!!" teriak suara para pemburu adzan, meninggalkan satu orang yang kalah saat Gambreng. Orang tua saya sering menjuluki saya dan teman-teman saya sewaktu kecil pemburu adzan karena kami baru pulang kerumah saat berkumandang. Biasanya para orangtua menenteng batang singkong dan menyuruh pulang. "Hoy....sudah sore, balik" biasanya sambil menunjuk kearah kami yang sedang bermain. Biasanya permainan segera berhenti di momen ini dan para anak-anak akan berlari mengambil sendal mereka dan mencoba selincah mungkin meliuk-liuk untuk menghindari terkaman orangtuanya.

Begitu juga dengan anak-anak di komplek saya mengekost saya juluki, bedanya saya tidak membawa batang singkong saat menyuruh mereka pulang. Menyenangkan sekali melihat mereka bermain sambil ditemani kopi tiap sorenya. Seakan-akan melihat kembali bagaimana saya kecil dulu, kekonyolan, rasa tidak mau kalah ataupun rasa bangga saat memenangkan suatu permainan. Rasa senangnya saat bernostalgia dengan pikiran saya sendiri.

Sore itu tanggal 9 maret, cuaca cerah seperti biasanya selitar 32 derajat celcius, setidaknya itu yang saya lihat di handphone saya. "Capek om" dengan nafas ngos-ngosan satu persatu mereka menghampiri saya. "ya sudah, duduk semuanya om ada cerita". Sambil mengambil beberapa snack untuk mereka saya mulai bercerita. Mereka selalu Exited dan mendengarkan ketika saya mau bercerita, entah karena cerita saya menarik atau justru karena snack yang saya berikan.

Comments