Jangan kalah dengan dunia

Pagi itu saya semangat sekali, mendapatkan telpon dari salah satu perusahaan besar di bidang FMGC di Indonesia yang mengatakan bahwa saya diundang untuk mengikuti tes. Senang rasanya panggilan tes pertama setelah lulus kuliah. 5 jam di dalam mobil dair Muaraenim – Palembang rasanya sangat singkat, bagaimana tidak seluruh otak di penuhi dengan pemikiran-pemikiran postif bahwa saya akan diterima di pperusahaan tersebut dan bekerja sesuai bidang benar-benar yang saya minati (Psikologi). Singkat cerita saya berhasil mengikuti tesnya dengan baik (psikotes). Setelah menunggu hampir 3 jam dikarenakan berkas yang cukup banyak, 30 orang di umumkan bisa mengikuti tahap selanjutnya (tahap interview) dibidang yang diminati dan sesuai dengan aplikasi yang kami kirimkan. Saya orang kelima yang dipanggil entah dari urutan nama atau dari perolehan skor yang didpatkan. Interviewernya sangat menyenangkan saat itu, bisa jadi dikarenakan ia menguasai teknik-teknik interview dengan sangat bagus atau mungkin karena dia berjenis kelamin perempuan yang menambah kenyamanan saat berbicara dengan saya. Sedikit miss ternyata, tes yang saya ikuti saat itu untuk posisi development program mereka bukan sebagai recruiter officer dan kebetulan sekali bahwa untuk program pengembangan mereka belum ada dibidangnya saya (Psikologi). Banyak hal coba ditanyakan dan banyak hal juga yang saya coba untuk jelaskan. Satu pertayaan yang menurut saya cukup berat saat itu adalah “apakah anda bersedia ditempatkan sebagai Sales Development Program”. Seketika otak saya otomatis berpikir keras dan banyak hal yang saya coba untuk pertimbangkan. Apalagi tawaran dari mereka yang cukup menjanjikan dari perkiraan gaji yang cukup besar untuk fresh graduate seperti saya, tempat tinggal, transportasi pribadi dan hal-hal menggiurkan lainnya. Setelah kurang lebih satu jam kami saling berbicara percakapan hari itu ditutup dengan kata-kata formal layaknnya wawancara pada umumnya “kami akan kabari 2 hari lagi, dikarenakansaat itu hari rabu artinya hari jumat saya bisa mendapatkan kabar dari mereka”.. Sesampainya di kost-an saya sudah mulai berpikir bahwa saya tidak akan lolos ke tahap selanjutnya, bukan dikarenakan saya pesimis dengan kemampuan saya tapi karena saat wawancara saya bilang bahwa sebenarnya saya tetap berminat di pekerjaan yang sesuai bidang saya. Pertimbangannya saat itu adalah saya fresh grad, saya sangat kurang pengetahuan dibidang sales. Saya membayangkan seandainya saya diterima dan berhasil kerja diperusahaan tersebut tidak ada hal yang menguntungkan yang bisa saya dapatkan dari perusahaan begitu juga sebaliknya. Saya tidak bisa berkembang lebih jauh terutama mengembangkan potensi saya (dibidang psikologi) sementara perusahaan mendapatkan karyawan yang tidak nyaman berada di perusahaan mereka. Bukankah alasan kenapa seseorang bisa loyal terhadap suatu organisasi dikarenakan mereka bisa nyaman di pekerjaan yang mereka lakukan (selain fasilitas yang sesuai). Menurut saya loyalitaslah yang membuat suatu organisasi berkembang dan maju, jika dalamnya saja sudah tidak baik apalagi luarnya. 2 hari berlalu dan perkiraan saya benar. Saya tidak dihubungi lagi oleh perusahaan tersebut. Kacaunya saat itu adalah saya tidak punya plan B, bingung dan tak tahu arah. Seminggu di Palembang saya tidak mendapatkan hasil apa-apa. Banyak panggilan interview yang saya ikuti di daerah setempat, sayangnya posisi yang ditawarkan menjadi “Business Consultant” diperusahaan pialang. Bukannya saya terlalu memilih suatu pekerjaan, tapi saya mencoba untuk mendapatkan rezeki tanpa merugikan orang lain. Berat, capek, semua semangat yang saya bawa rasanya hilang seketika. Mencoba untuk menyemangati diri sendiri dengan berkata “saya tidak boleh kalah dari dunia” rasanya percuma. hingga akhirnya saya mendapatkan pekerjaan harian di Palembang, sebagai pelayan restoran di suatu rumah makan yang sudah beridri 50 tahun. Wow angka yang cukup fantastis, untuk sebuah rumah makan tradisional. Disana saya seperti mendapatkan kelaurga baru, orang-orang dengan latar belakang yang berbeda, ada yang sedang kuliah, yang hanya tamatan SMA dan cece seseorang yang cerewet etnis tionghoa. Malu? Tentu saja, gelar S1 saya hanya bisa mendapatkan (maaf) pekerjaan sebagai pelayan restoran. Bukan karena sebagai pelayan itu buruk, tapi seperti kata cece bilang bahwa saya harus mendapatkan pekerjaan lain dikarenakan dia rasa saya bisa mendapatkan pekerjaan lebih dari ini. Bangga ? tentu saja, di saat orang-orang yang sama levelnya (sedang menunggu panggilan pekerjaan) seperti saya dirumah, duduk dengan nyantai tapi saya bisa mendapatkan uang setidaknya menfkahi saya tiap harinya tapi meminta lagi ke orang tua. Hampir saja saya kalah oleh dunia ini, jika saya tidak bertemu dengan Cliff Pickering. Seorang keturunan Australia yang saat ini tinggal di Yogyakarta. Berawal dari iseng, kemarinn malam saya mencoba mengirim pesan kepada dia. Konyol sekali hari itu, mungkin jika ia bukan orang yang ramah pesan dari saya mudah sekali diabaikannya. Bagaimana tidak saya hanya menulis “I need your help” yang ternyata bertanya apakah ia punya lowongan pekerjaan yang berhubungan psikologi. Tidak banyak yang bisa saya bantu, tapi dia tetap tertarik dengan apa yang sebenrnya ingin saya bicarakan. Cliff banyak memberikan masukan, mengubah pola pikir saya malam itu bahwa tidak semua perusahaan membuat orang-orang mencari mereka tapi terkadang perusahaan itulah yang mencari sendiri dengan mengontak orang-orang yang ada disekitar mereka. Cliff mengatakan bahwa saya harus tetap berpikir jernih, tetap menjadi apa yang saya inginkan, tetap menyukai hal-hal yang saya senangi bukan mengikuti apa yang orang lain lakukan. Karena rejeki datang bukan dari orang yang kita kenal, tapi dari orang yang mengenal kita. Saya berterimakasih sekali dengan Cliff karena telah membantu saya menyadarkan kembali tentang tujuan hidup, keinginan yang hampir saja saya lupakan karena kerasnya cobaan hidup. Jadi disinilah saya sekarang, masih menunggu perusahaan beruntung yang bisa mendapatkan saya sambil tetap bekerja membantu orang-orang yang kelaparan di pagi hari. Semoga Allah bersama orang-orang yang optimis (.

Comments