Psikologi, Interview kerja.
Palembang – Pagi ini terasa sejuk dengan udara yang sedikit menusuk. Tak seperti biasanya, hujan deras membuat hidup terasa lebih keras sampai warung baju bisa diperas. Sluuuurp….. Suara kopi yang biasa aku sebut espresso. Tentu saja bukan espresso sebenarnya yang dibuat dengan mengekstrak biji kopi yang sudah digiling dengan menyemburkan air panas dibawah tekanan tinggi. Tapi hanya sebuah kopi sederhana yang dibuat dengan saringan seadanya dan disiram dengan air mendidih. Kesederhanaan itulah yang sulit dicari.
Jam 11 kondisi warung cukup sepi hanya ada beberapa orang yang sedang makan begitu juga dengan arus masuk pelanggan hanya bergantian 1 – 2 orang. Efek kafein membuat pikiran saya lebih rileks dan entah kenapa saya teringat dengan pengalaman interview kerja saya di salah satu perusahaan besar yang bergerak di bidang FMGC.
Sehari sebelum tes saya begitu gugup, tak tahu harus melakukan apa, bahkan hampir tidak ada gambaran sama sekali apa saja yang harus saya lakukan nanti saat proses interview.
“sudah kak, nyantai…dibawa enjoy aja besok”.
Sahut rehan yang resah melihat saya mondar-mandir. Keesokan harinya, saya berangkat pagi-pagi sekali bahkan saya tiba di lokasi tes sekitar satu jam sebelum waktu yang ditentukan. Bukan karena saya terlalu rajin, tapi sudah kebiasaan saya ketika menghadapi sesuatu yang saya anggap penting saya akan datang minimal 30 menit sebelumnya untuk membuat tubuh dan pikiran saya merasa tidak asing di tempat baru.
Ada sekitar 80an orang yang mengikuti tes pagi itu. Sebelum tahap interview saya berserta peserta lainnya diharuskan mengkuti tes tertulis telebih dahulu yang merupakan tes psikotest, bagi yang memenuh kriteria akan mengikuti tahap selanjutnya. Saya cukup pede di tes ini “akan saya tunjukan hasil kuliah 8 semester saya” teriakan yang saya lontarkan dengan keras. Tentunya teriakan di dalam hati. Psikotes memakan waktu sekitar 3 jam yang kemudian dilanjutkan tahap interview setelah makan siang.
Secara keseluruhan saya menjalani prosesnya dengan baik, saya menjelaskan semua hal-hal yang ditanyakan interviewer bahkan 60 menit lebih saya habiskan berhadapan dengan interviewer benar-benar tidak terasa. Lucunya adalah proses wawancara tidak semenakutkan yang saya kira, bahkan hanya sekitar 5 – 10 menit saya merasa gugup ketika proses wawancara.
Tapi tahap ini benar-benar krusial, teman saya bahkan sempat mengejek saya sebelumnya. Dia mengatakan “kok anak psikologi gugup mau di interview?”. Seketika saya sadar, benar juga kenapa ya saya bisa gugup. Padahal sejatinya ini “kerjaan” saya nantinya, observasi dan wawancara merupakan fondasi dasar yang harus kami miliki di psikologi. Pertanyaan besarnya, KENAPA?!.
Sesampainya di kosan saya bertanya-tanya kepada diri sendiri.
“iya ya, kok saya bisa gugup. Rasanya benar-benar bingung apa yang harus dilakukan”.
Padahal bahkan ketika kuliah dahulu, ada satu semester dimana saya melakukan praktek yang judulnya itu konseling karir. Ketika praktekpun saya benar-benar lugas bertanya dengan OP (objek penelitian) seolah-olah saya benar-benar menjadi psikolog di ruangan itu. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari pun saya terbiasa mengobservasi orang terlebih dahulu ketika bertemu terutama untuk orang yang baru pertama dijumpai.
Hampir 5 jam saya memikirkan kenapa saya bisa gugup, blank dan bahkan benar-benar tidak tahu apa yang harus saya lakakukan ketika di wawancarai. Hingga akhirnya saya sadar bahwa selama kuliah saya sering menjadi observer, saya sering menjadi konselor bahkan ada satu pelajaran yang seolah-olah saya seorang interviewer. Tapi selama kuliah gak ada satupun pelajaran yang membuat saya menjadi interviewee, gak ada satu pengalamanpun di kampus yang membuat saya menjadi orang yang diwawancarai.
Saya belajar menjadi observer yang baik, konselor yang baik dan interviewer yang baik tapi tidak sebaliknya. Saya yakin saya tidak sendiri. Kita hanya diajarkan menikmati hasil kerja keras. Tapi jarang diajarkan bagaimana cara mendapatkannya. Fokus pada hasil itu penting, sehingga kita tahu apa tujuan kita untuk melakukan suatu hal. Tapi menikmati dan menjalani proses juga sama pentingnya. Bagaimana kita bisa mendapatkan hasil yang terbaik jika hal dasarnya saja, prosesnya kita tidak kenal.
Mungkin saya tidak diajarkan untuk memahami proses wawancara, atau mungkin jjuga di ajarkan tapi sayanya yang tidur. Entahlah.

Comments
Post a Comment